Nasional

Banteng Muda 'Tak Mau Keluar Kandang', Tunas Mawar dan Putra Bangsa Beradu Gagasan

Tatag Gianyar
Sabtu, 10 Februari 2024, Februari 10, 2024 WIB Last Updated 2024-02-10T02:18:56Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


Gianyar - Mendekati hari H Pileg 2024 Tingkat I, DPRD Bali khususnya Daerah Pemilihan (Dapil) Gianyar terasa kian menghangat. Para Caleg  Milenial dari Parpol Koalisi masing-masing Paslon Pemilihan Presiden 2024, saling beradu gagasan.


Dimoderatori Carrick Thring, di Kecamatan Sukawati, Gianyar, Jumat (9/2/24). Hadir Putra Bangsa perwakilan Koalisi Perubahan. AMIN, Ali Basyah, Caleg DPRD Bali Dapil Gianyar dari PKB), membawa gagasan atas berbagai persoalan di Bali dan Gianyar melalui "Paket Perubahan".


Juga hadir Tunas Mawar Indonesia mewakili Koalisi Indonesia Maju Prabowo-Gibran yaitu Ida Bagus Nyoman Devina Yesa akrab disapa Bagus Yesa, Caleg DPRD Bali Dapil Gianyar Nomor 3 dari PSI, mengedepankan visi digitalisasi dalam pengembangan pembangunan di Bali, juga mengkritik kuat berbagai isu politik di Gianyar.


Sangat disayangkan oleh hadirin, "Caleg Spesial" Banteng Muda Gianyar perwakilan Koalisi Ganjar-Mahfud (GAMA), Putu Diah Pradnya Maharani alias Gek Diah, Caleg DPRD Bali Dapil Gianyar Nomor 2 dari PDIP, tidak hadir dalam diskusi publik bertajuk "Caleg Muda Bicara Gagasan"


Sehingga tidak dapat diketahui pasti apa yang menjadi agenda kerja dan visi utamanya sebagai generasi muda calon Wakil Rakyat Gianyar di tingkat I.


Ada konfirmasi Caleg DPRD I  PDI menjawab melalui sms sebagai berikut, Terima kasih, mohon maaf saya tidak bisa hadir karena agenda saya full. Mungkin di lain kesempatan kita bisa bertemu ya," ungkap Gek Diah kepada penyelenggara acara yang dihadiri sejumlah anak-anak muda Gianyar tersebut, Kamis (8/2/24).


Pandangan Tentang Masifnya "Politik Praktis" di Gianyar


Sesi awal sang moderator, Carrick Thring menyinggung wacana masifnya Politik Praktis memperoleh kekuasaan di Gianyar kepada dua orang Caleg Muda yang hadir, bagaimana pendapat mereka tentang aktivitas ini bisa begitu marak dilakukan oknum-oknum penguasa saat ini, memanfaatkan ruang-ruang spritual/tempat ibadah untuk berkampanye mengarahkan dukungan terkait Pemilu 2024, seharusnya tidak etis dilakukan sebagaimana diatur dalam Undang-undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu.


Gus Yesa menjawab, dari kacamata pribadi ia melihat hal ini secara tidak langsung telah menciderai proses demokrasi di Gianyar. Munculnya politik praktis di ranah spritual menjadi cara-cara licik elit partai penguasa saat ini, memanfaatkan situasi dengan kesewenang-wenangan  untuk mempertahankan kekuasaan, justru menimbulkan perpecahan karena masyarakat yang diadu secara langsung demi kepentingan pribadi oknum yang berkedok wakil rakyat.


"Saya menilai gaya-gaya politik seperti ini justru berbahaya sekali, masyarakat jadi antipati terhadap perbedaan. Terus terang saya sedih saja melihat keadaan ini, masyarakat terkesan dibodoh-bodohi padahal jelas aktivitas itu termasuk dalam pelanggaran pidana pemilu, kampanye di tempat ibadah itu dilarang Undang-Undang. Masyarakat harus sadar itu, lebih cerdas dalam memilih," jelas Gus Yesa


Ali Basyah Caleg Muda PKB menilai, seharusnya ada ketegasan dari Pemerintah jika melihat adanya Calon-calon yang jelas telah melakukan politik praktis, apalagi sampai mempolitisasi agama demi kepentingan pribadi yang menurutnya tidak etis untuk dilakukan. Menurut Ali, gaya berpolitik kebangsaan lebih dapat diterima oleh generasi muda saat ini, karena cara ini lebih mengutamakan kepentingan masyarakat dan sifatnya jangka panjang dan menjangkau lebih banyak lapisan.


"Sayang saja kalau masih saat ini masih ada cara-cara berpolitik seperti itu, tidak menjangkau semua lapisan masyarakat. Bagi saya, politik kebangsaan lebih dapat diterima generasi muda saat ini, karena lebih mengarahkan pada pemahaman dan penerimaan bahwa Indonesia adalah sebuah nation-state dengan Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945 sebagai kerangka konstitusi politik negara," ujar Ali Basyah


Dua Caleg Muda Gianyar ini berharap, pada Pemilu selanjutnya para pihak bisa lebih menahan diri untuk tidak berpolitik praktis di ranah-ranah spiritual/ibadah. Bagi mereka, ranah-ranah ini harusnnya menjadi tempat yang menyejukkan bagi semua umat beragama di Indonesia.


Gagasan Dalam Membangun dari Generasi Muda Gianyar


Walaupun dari latar belakang Parpol dan Koalisi yang berbeda, diskusi publik berlangsung hangat dengan penuh rasa persaudaraan, mengedepankan gaya politik merangkul ala anak muda, dengan gagasan-gagasan membangun masa depan Bali, namun tetap dengan idealisme masing-masing Parpol pengusung kedua Caleg Muda Gianyar ini.


Dalam diskusi ini sejumlah isu pembangunan dan perubahan menguat. Mereka juga beradu gagasan soal kemiskinan, ketenagakerjaan, infrastruktur, hingga isu-isu sosial seperti pendidikan. Semakin menarik, karena ada perbedaan sudut pandang ketika diskusi mulai membahas tentang ketenagakerjaan.


Ali Basyah  lebih mengamati bahwa bukti nyata menjadi hal utama yang harus ditonjolkan seorang calon wakil rakyat dari kalangan generasi muda. Seperti halnya menginisiasi perubahaan di sektor pertanian, bagaimana agar pemuda bisa lebih tertarik menjadi petani di masa depan dengan adanya peran Pemerintah dalam membangun optimisme anak muda.


Seperti gagasnya untuk menerapkan teknologi pertanian seperti _water management_ , mekanisasi alat pertanian, hingga terciptanya banyak aplikasi pertanian yang memudahkan kerja petani. Selain dapat menekan biaya produksi petani sekaligus meningkatkan produktivitas, digitalisasi menjadi upaya yang menarik bagi pemuda Bali untuk bertani.


"Wacana utama yang saya coba dihadirkan adalah soal bagaimana rakyat sebagai unit paling utama dari demokrasi tidak boleh hanya dijadikan sebagai objek politik, termasuk anak-anak muda harus menjadi subjek untuk bisa mengisi pos-pos pemerintahan yang ada. Kita harus memaksimalkan potensi anak muda ini menuju Indonesia Emas di tahun 2045," ungkapnya.


Sementara Gus Yesa, lebih mengedapankan tentang digitalisasi. Keinginan Gus Yesa bagaiamana kedepan generasi muda sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) di Bali dan Gianyar agar lebih memiliki daya saing tinggi khususnya bidang Ilmu Tekonlogi (IT).


"Menjadi visi saya untuk mewujudkan digitalisasi di Gianyar, bagaimana kedepan SDM muda ini mampu bersaing memiliki kualitas tinggi di bidang IT, AI, _Blockchain_ dan sebagainya. Jika diamanahkan, saya akan memasifkan program ini, membuka kursus-kursus gratis untuk generasi muda di Gianyar, sehingga Indonesia Emas 2045 bisa terwujud dan kita bisa mengambil peran," cetusnya.


Kedua Caleg Muda Gianyar ini mengaku sangat senang bisa berdiskusi, sehingga satu sama lain bisa saling bertukar pikiran dan memegang setiap gagasan dalam sebuah bingkai kebhinekaan. Karena bagi mereka, keluh kesah anak muda hanya akan dimengerti oleh anak muda itu sendiri, berharap Pemilu 2024 ini mampu menjadi wadah bagi mereka untuk membawa aspirasi masyarakat dalam kapasistas berpikir di tingkat parlemen. (Gung Krisna)

Komentar

Tampilkan